Tantangan Valverde di Camp Nou: Mengelola Ego, Perbaiki Pertahanan dan Filosofi Permainan

Ernesto Valverde

BolaSempakSebagai pelatih baru Barcelona, Ernesto Valverde menjadi sosok terbaru yang juga harus mengatasi tantangan di dunia sepak bola. Era Luis Enrique penuh dengan trofi, namun kemenangan Barca atas Alaves di final Copa del Rey adalah satu-satunya trofi yang diraih pada musim 2016-17.

 

Real Madrid menjadi juara Spanyol sekali lagi dan memulihkan dominasi raksasa Catalan di La Liga, sesuatu yang harus dibangkitkan oleh mantan pelatih Athletic Bilbao, Espanyol, Olympiakos, Villarreal dan Valencia tersebut. Jadi apa saja yang menjadi tantangan Valverde dalam awal karirnya sebagai pelatih Barca ?

 

Mengelola ego

Valverde mungkin harus berterima kasih kepada Neymar karena telah mendapatkan pekerjaan di Barcelona, tapi dia tidak mendapat rekomendasi yang cukup baik.

Sejarah Barcelona dan Real Madrid baru-baru ini menunjukkan bahwa hanya pelatih besar seperti Pep Guardiola dan Zinedine Zidane yang bisa mengendalikan ego para pemain, sementara juru taktik seperti Gerardo Martino dan Rafael Benitez kurang berjalan dengan baik. Valverde tentu memiliki lebih banyak kesamaan dengan kategori yang terakhir dan harus “membuat nama” nya lebih awal.

 

Pertahanan

Selain ego, trio striker Barcelona pasti hal yang menyenangkan bagi pelatih manapun. Di ujung lain lapangan, Valverde akan menemukan cerita yang berbeda. Blaugrana mungkin memiliki rekor defensif La Liga yang lebih baik dari pada Madrid musim ini, namun mereka tersingkir  Liga Champions dengan beberapa masalah.

Gagal mencari pengganti Dani Alves di pos bek kanan merupakan PR besar bagi bidang rekrutmen Barca, sementara Jordi Alba kehilangan statusnya sebagai starter disebelah kiri pertahanan. Memang, formasi 3-4-3 terapan Luis Enrique bisa menjadi solusi, namun di era Valverde nanti pasti harus ada perbaikan untuk melanjutkan filosofi Barca.

 

Gaya dan identitas Barcelona

Selama menjalani tugas singkat dengan Barcelona, Valverde dilatih oleh Johan Cruyff, sementara empat tahun di Bilbao menunjukkan kepelatihannya terinspirasi oleh gaya permainan Barca era Guardiola.

Luis Enrique mengambil pendekatan yang lebih langsung untuk mengeksplor bakat Lionel Messi, Luis Suarez dan Neymar sehingga meraih treble pada musim 2014-15. Baru-baru ini, strategi tersebut terlihat tidak memiliki pengaruh positif dan ini akan menajdi tantangan Valverde untuk mengembalikan identidas Barca.

 

Akhir dari sebuah siklus

Luis Enrique adalah alasan Barcelona tidak mempesona seperti yang mereka lakukan lima tahun lalu. Beban kerja Andres Iniesta harus dikelola dengan hati-hati, partner lini tengah seperti Xavi sudah pindah ke tempat lain.

Jika Valverde melihat kontrak pemain veteran itu, dia juga akan mengawasi kemungkinan penurunan performa dari Gerard Pique dan Sergio Busquets. Lionel Messi semakin tua dan bisa saja mengalami masalah kebanyakan pesepakbola di usia 30an, dan ini akan menjadi tugas Valverde yang paling mengerikan.

 

Mendapatkan solusi

Ketergantungan Barcelona pada kekuatan striker mereka dan penurunan dalam penguasaan lini tengah mereka telah menjadi sorotan belakangan ini. Arda Turan, Andre Gomes, Denis Suarez dan Paco Alcacer termasuk di antara mereka yang gagal menyesuaikan harapan Barca sebagai pemain masa depan.

Setelah mengelola lini tengah Athletic, Valverde sangat berpengalaman dalam mendapatkan hasil maksimal dari sumber daya yang ada. Dia harus memastikan Barca yang tidak merata saat ini dapat membuat rotasi pemain dan tetap seimbang saat diatas lapangan.