Sven-Goran Eriksson Komentari Adaptasi Guardiola di Inggris

Sven-Goran Eriksson

BolaSempak Mantan manajer Manchester City, Sven-Goran Eriksson, percaya daya saing Premier League mungkin sangat mengejutkan Pep Guardiola.

 

Budaya di Inggris mungkin menjadi mengejutkan Guardiola sejak melihat faktor sifat gaya bermain yang cenderung membutuhkan keunggulan fisik dan bermain terbuka, di mana City masih tertinggal 10 poin dari Chelsea yanga da di puncak klasemen, dimana manajer yang memenangkan dua trofi Liga Champions itu masih keras untuk melancarkan taktiknya.

 

Guardiola – dimana City yang diasuhnya disingkirkan oleh Monaco di babak 16 Liga Champions – memenangkan Bundesliga dalam tiga musim terakhir bersama Bayern Munich dan memenangkan tiga gelar La Liga.

 

Dominasi tersebut sulit untuk dicapai di Inggris saat City, Chelsea, Arsenal, Tottenham, Manchester United dan Liverpool bersaing untuk meraih supremasi, sementara Leicester City membuktikan ketidakpastian Premier League setelah mengangkat trofi tertinggi musim lalu.

 

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Omnisport, Eriksson – yang menghabiskan satu tahun bertugas di City pada musim 2007-08 – mengatakan: “Jika Anda adalah pelatih Bayern Munich, Barcelona atau Real Madrid, peluang untuk memenangkan sesuatu sangatlah besar.

 

“Ketika Anda pergi ke Premier League, Anda memiliki enam, tujuh, delapan tim yang juga berjuang untuk menang. Keyakinan jauh lebih tinggi di Bundesliga atau La Liga.

 

“Perbedaan antara Barcelona, Real Madrid dan Atletico (Madrid) serta yang lainnya agak besar. Namun perbedaan antara City, Chelsea, United, Arsenal dan Tottenham tidak begitu besar.

 

“Hal ini lebih sulit bagi setiap pelatih untuk bekerja di Premier League daripada liga lainnya. Anda dapat kalah atau menang melawan tim mana pun. Tahun depan, siapa tahu, mungkin Anda dapat bertaruh untuk Leicester lagi.”

 

Jika ada bukti lebih lanjut dari kesulitan Premier League, hal itu bisa terlihat dari apa yang dialami The Fox. Hanya sembilan bulan membimbing Leicester meraih kemenangan terbesar di Inggris, Claudio Ranieri dipecat bulan lalu di tengah kekhawatiran degradasi.

 

Hal ini juga menunjukkan sifat yang berubah-ubah dari papan atas Inggris.

 

“Sepak bola adalah permainan yang indah dan kejam,” Eriksson menambahkan, yang kini bertugas di Shenzhen FC. “Ranieri memenangkan Premier League dan tidak ada yang mengharapkan hal itu, benar-benar menjadi satu kejutan terbesar.

 

“Dia melakukan pekerjaan yang besar. Pada bulan Desember, ia dinobatkan sebagai pelatih terbaik di dunia dan dua bulan kemudian dia dipecat.

 

“Dan mungkin, hal itu berlaku bagi Guardiola. Dia adalah pelatih yang memenangkan segalanya dan dinobatkan sebagai yang terbaik, tapi siapa yang tahu di masa depan.”