Dolberg dan Sanchez, Potensi Kembalikan Kejayaan Ajax Era 90an

Dolberg dan Sanchez

BolaSempak Ketika Ajax dikalahkan 4-1 oleh Rostov di babak play-off Liga Champions pada awal musim 2016-17, Peter Bosz sempat merasa gusar dengan musim pertamanya di Amsterdam ArenA.

 

Pertahanan Ajax sangat buruk dan mereka tidak memiliki kreativitas di lini tengah dan bahkan harus berjuang untuk memaksimalkan lini depan. Bahkan para penggemar merasa pesmis dengan tim kesayangannya untuk memberi dampak di Eredivisie dan turnamen Eropa.

 

Tapi sembilan bulan berlalu dan klub Amsterdam itu melaju ke final Eropa pertama mereka sejak kalah dalam final Liga Champions melawan Juventus pada tahun 1996, meskipun dikalahkan Manchester United di Stockholm.

 

Dan bisa dilihat banyak yang berubah sejak melawan Rostov pada Agustus tahun lalu. Dengan Nemanja Gudelj, Riechedly Bazoer dan Anwar El Ghazi memberikan dampak positif untuk klub tersebut dan bahkan menjadi faktor penentu gol.

 

Selain itu, Bosz mampu memanfaatkan para bakat muda seperti Andre Onana, Davinson Sanchez, Matthijs de Ligt, Justin Kluivert dan Kasper Dolberg, serta Hakim Ziyech yang direkrut dari Twente yang menambahkan kualitas tim.

 

Skuad tersebut berubah dalam kombinasi dengan filosofi menyerang dan bermain mempesona di pentas Eropa, dengan Panathinaikos, Standard Liege, Celta de Vigo, Legia Warsawa, Kopenhagen, Schalke dan Lyon harus merasakan kedigdayaan tim Negeri Kincir Angin tersebut.

 

Kemenangan atas Schalke dan Lyon membuat penggemar Ajax mengenang era pertengahan 1990-an, yang menjadi juara di level Eropa dan mengalahkan AC Milan 1-0 di final Liga Champions 1995.

 

Tentu saja anggapan bahwa Ajax bisa kembali ke deretan papan atas Eropa semakin digembar-gemborkan, namun mereka tetap berada jauh di bawah tingkat elit Eropa dibandingkan Real Madrid, Juventus, Bayern Munich dan Barcelona.

 

Dan meskipun tidak ada yang menyangkal Ajax memiliki beberapa pemain yang sangat menarik dalam skuad mereka – dengan Sanchez, De Ligt dan Dolberg – akan sangat tidak adil jika membandingkannya dengan bintang-bintang yang membantu Ajax menaklukkan Eropa di bawah kepemimpinan Louis van Gaal.

 

Van Gaal memiliki hak istimewa untuk bekerja dengan legenda hebat seperti Frank Rijkaard, Danny Blind, Frank dan Ronald de Boer, serta bakat muda saat itu seperti Clarence Seedorf dan Patrick Kluivert.

 

Bosz memiliki bakat yang dia miliki, tapi ini adalah skuad yang bergantung pada banyak remaja dan pemain di usia awal 20-an untuk membuat perbedaan.

 

De Ligt yang berusia 17 tahun memang sangat berbakat, tapi sulit mengharapkan dia untuk memberikan tampilan seperti Rijkaard dan Blind 20 tahun yang lalu. Hal yang sama berlaku untuk rekannya di lini pertahanan, Sanchez berusia 20 tahun, dan sensasi Dolberg masih 19 tahun.

 

Satu-satunya pemain berusia di atas 25 tahun adalah Lasse Schone. Tapi pemain internasional Denmark itu telah berjuang untuk mengesankan seperti rekan setimnya yang lebih muda dalam pertandingan besar.

 

Jika Ajax berada dalam posisi untuk membentuk sekelompok “wonderkids” mereka selama tiga atau empat musim berikutnya, bisa saja mereka memberi dampak besar di Liga Champions beberapa tahun mendatang.

 

Tapi kenyataan pahit adalah bahwa Ajax akan kehilangan para pemain terbaik mereka dengan baik sebelum mereka mencapai puncaknya.

 

Bagi Onana, Sanchez, Ziyech dan Dolberg, Ajax hanyalah batu loncatan belaka. Amsterdam ArenA adalah tempat yang ideal bagi mereka untuk berkembang pada tahap karir terbaik, namun loyalitas klub akan dihitung lebih rendah ketika harus mengembangkan karir ke tingkat selanjutnya.

 

Namun klub tersebut maih memiliki kesempatan untuk memanfaatkan situasi sebaik-baiknya, dan siapa tahu, mungkin akan ada simetri tertentu dalam musim selanjutnya, dimana para pemain muda memiliki motivasi untuk membentuk sebuah tim seperti eroa 90an.