Dimana Mereka Sekarang? Skuad Chelsea Yang Memenangkan Piala FA 1997 (Bagian 3)

Chelsea 1997

BolaSempak Kemenangan 2-0 atas Middlesbrough di pertandingan final Piala FA 1996/97 benar-benar menjadi sebuah kehormatan besar pertama bagi sebagian besar pemain yang terlibat, dengan memenangkan medali keempat di Piala FA. Ini juga berarti kehormatan besar pertama bagi Chelsea sejak Piala UEFA 1971.

 

Namun seperti artikel sebelumnya, kemana sajakah para mantan pemain The Blues tersebut ?

 

DAN PETRESCU (MD)

Kenangan abadi dari cerita Piala FA bagi Dan Petrescu pada tahun 1997 sebenarnya bukan final, tapi pertandingan yang tiba-tiba membuat banyak orang menganggap serius Chelsea sebagai pesaing untuk mengangkat trofi tersebut.

Hal itu terjadi di bulan Januari dan putaran keempat saat The Blues tertinggal 2-0 di Stamford Bridge. Petrescu bertengkar dengan Robbie Fowler, yang menyia-nyiakan waktu di atas  lapangan. Dan saat babak pertama datang, para pemain The Reds dilaporkan bersitegang dengan pemain Chelsea.

Setelah The Blues menyelesaikan comeback yang luar biasa (menghancurkan Liverpool saat mereka melaju meraih kemenangan 4-2) Petrescu membalikkan meja dan mengingatkan pemain Liverpool tentang gol yang dicetaknya.

Sejak hari-hari sepagai pemain berakhir pada tahun 2003, Petrescu telah memanjakan karir manajemen global dari Rumania ke Polandia ke Rusia ke Qatar dan ke China. Dia saat ini mengelola klub Dubai, Al-Nasr.

 

GIANFRANCO ZOLA (ST)

Pertama ada Eric Cantona yang mempesona penonton Premier League dengan kecemerlangannya, lalu Gianfranco Zola masuk sebagai pemain yang tidak diprediksi dan membuat perbedaan.

Pengaruh Zola di Chelsea terbilang instan. Masuk pada bulan November 1996 dari Parma, dia benar-benar mengubah cara tim asuhan Gullit bermain sepak bola. Dengan keahlian di kakinya, dia menjadi favorit para penggemar.

Tidak ada arogansi atau kontroversi, hanya seorang pemain Italia bertubuh mungil yang rajin mencetak gol sehingga sempat dibandingkan dengan seorang Pele.

Zola luar biasa dan perannya dalam memenangnkan Piala FA 1997 adalah hal signifikan. Dia mencetak salah satu gol terbaik yang pernah ada di semifinal saat melawan Wimbledon di Highbury, sementara dia juga memberi assist untuk gol yang dicetak Newton melawan Boro.

Namun Zola tidak mengubah stereotip sebagai pemain ketika dia pindah ke bidang manajemen. Teorinya adalah bahwa pemain hebat jarang menjadi manajer yang baik dan Zola membuktikan masalahnya.

Tugas terakhirnya dengan Birmingham City melihat dia hanya memenangkan dua pertandingan sebelum dia mengundurkan diri dengan klub yang terdegradasi di musim 2016/17.

 

MARK HUGHES (ST)

Dengan kedatangan Zola di Stamford Bridge, harapannya adalah Gullit akan memilih kemitraan pemain Italia itu dengan Gianluca Vialli di lini depan. Vialli belum lama menjuarai Liga Champions bersama Juventus, jadi itu semua itu terlihat menggairahkan.

Gullit mencoba kombinasi itu pada awalnya, tapi ketika Vialli mengalami cedera, Mark Hughes tidak menyia-nyiakan kesempatan sebagai pemain baik London barat.

Kemitraan pria asal Wales dengan Zola tak terduga, namun memastikan musim Chelsea berbuah kegembiraan. Dengan keahlian Zola dan oportunisnya Hughes, The Blues memiliki keseimbangan sempurna.

Hughes memasuki musim senja dalam karirnya dan kedatangan Zola membantunya menjalani kebangkitan yang tak terduga, memenangkan Piala FA keempat dengan klub yang dia dukung sejak kecil.

Kini dia menjadi seorang manajer, karirnya pasca bermain telah melangkah lebih jauh dari pada Zola. Hughes telah menikmati periode sukses dengan Wales dan Blackburn Rovers, dan juga saat ini dia melaith Stoke City.

 

RUUD GULLIT (MANAGER)

Jika ada seorang pria menjadi simbol sepak bola Inggris pada pertengahan 1990an, maka Ruud Gullit orangnya.

Setelah Euro 96, fans sepak bola Inggris berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh penggemar yang lebih suka berjalan-jalan menikmati jenis hiburan lainnya.

Namun Gullti mampu membuat perubahan dan juga anggapan banyak pihak di Inggris, cukup dengan apa yang terjadi dengan karir manajerialnya setelah Chelsea menang di Piala FA 1997. Manajer dari luar negeri dan kulit hitam pertama yang mengangkat trofi tersebut, dan kini dia baru saja ditunjuk sebagai asisten pelatih timnas Belanda.