5 Pesepakbola Yang “Terlambat” Bermain di Premier League

Gullit

BolaSempak Mengingat bintang-bintang internasional yang muncul terlambat ke Premier League dan kemudian menunjukkan kelas mereka, berikut adalah lima pesepakbola yang dianggap terlambat bermain di kompetisi terbesar di Inggris.

 

Ruud Gullit (Chelsea)

Bagian dari gelombang pertama bintang asing ke Premier League yang baru saja diperhitungkan, Gullit bersiap menuju Stamford Bridge pada tahun 1995 setelah memenangkan banyak trofi di tingkat klub bersama Feyenoord, PSV dan Milan, belum lagi memainkan bagian penting dalam gaya totalvoetbal dengan timnas Belanda juga.

Glenn Hoddle berperan sebagai faktor penentu di Chelsea, sebuah gerakan yang hampir dirancang untuk kembali menaikkan kualitas mantan pemain Belanda tersebut.

Gullit (yang berusia 33 di bulan September pada musim debutnya) tentu saja menambahkan banyak hal kepada skuad yang berisi Jody Morris dan Gavin Peacock. Dia hanya dikalahkan oleh Eric Cantona untuk penghargaan pesepakbola musim 1995/96, sebelum pergi ke ruang istirahat pada musim panas itu dan membawa pulang sebuah Piala FA.

 

Jurgen Klinsmann (Tottenham)

Menjadi cameo dalam satu musim, waktu Klinsmann di Tottenham terbilang cukup efektif. Kedatangan pertamanya terjadi pada tahun 1994, ketika dia sempat berseteru dengan Alan Sugar ketika turnamen Piala Dunia 1990.

Banyak yang memprediksi bahwa karir Klinsmann untuk menjaid pemain kunci akan berakhir, tapi striker yang saat itu berusia 30 tahun membuat bingung semua orang dengan membuktikan dirinya sebagai pemain menentukan, menjadi ikon dan beradaptasi dengan cepat sehingga menjadi salah satu sejarah Premier League.

Begitu juga dengan catatan 30 gol di  penghujung musim, membuat dia terpilih sebagai pemain terbaik versi penulis tahun itu.

 

Zlatan Ibrahimovic (Manchester United)

Dengan bakatn yang luar biasa dan benar-benar tak diragukan lagi, skeptisisme Inggris terhadap Ibrahimovic bisa berbalik arah. Dia mmapu menjawab tantangan dengan prestasi di musim perdananya.

Pemain berusia 35 tahun tidak hanya membalikkan logika para penggemar sepakbola, dia juga mampu membawa Manchester United meraih tiga trofi.

 

Edwin van der Sar (Fulham / Manchester United)

Alex Ferguson menghabiskan banyak waktu, usaha dan harga diri dalam pencariannya untuk menggantikan sosok Peter Schmeichel. Mark Bosnich, Raimond van der Gouw dan Massimo Taibi termasuk di antara para pengganti yang gagal Old Trafford.

Pada akhirnya, seorang kiper asal Belanda yang bersahaja mampu menjadi jawaban dari harapan Fergie.

Seorang veteran dari elit sepakbola Eropa ketika bermain dengan Ajax dan Juventus, Van der Sar didatangkan Fulham senilai £ 7 juta.  Dia menghabiskan empat tahun  di Craven Cottage sebelum menandatangani kontrak untuk Manchester United pada usia 34 tahun, dan selama enam musim, tujuh trofi dan 1.032 menit tanpa kebobolan membuat karirnya kian cemerlang bersama MU.

 

Deco (Chelsea)

Ada argumen bagus yang bisa didapat adalah Deco sebagai salah satu pemain termuda era modern. Setelah membuktikan bahwa ia bisa memainkan peran di lini tengah dalam sebuah tim yang bersikap defensif dan berpikiran terbuka (Porto) dan kemampuan yang luar biasa (di sisi Barcelona yang masih memiliki Ronaldinho), Deco pindah ke Premier League dan menjadi jenderal lini tengah Chelsea di bawah era Carlo Ancelotti.

Setelah direkrut di usia 32 tahun, kondisi tidak ideal diprediksi untuk pesepakbola asal Portugal itu di Stamford Bridge. Namun diamampu membalikkan anggapan negatif dengan meraih tiga trofi penting dan menjadi pemain kunci dalam era tersebut.