Valverde Jadi Kandidat Pelatih Baru Barcelona

Ernesto Valverde

BolaSempakSpekulasi bahwa Ernesto Valverde mungkin menjadi pelatih kepala berikutnya di Barcelona bukanlah hal baru bagi bos Athletic Bilbao tersebut.

 

Setelah juara bertahan Spanyol itu mengalahkan Sporting Gijon pekan lalu, Luis Enrique mengumumkan bahwa ia akan mundur saat kontraknya berakhir musim ini.

 

Valverde – yang bermain untuk raksasa Camp Nou antara 1988 hingga 1990 – disebut-sebut sebagai pelatih Barcelona setelah era Pep Guardiola dan juga setelah Tito Vilanova mundur karena sakit.

 

Pelatih berusia 53 tahun itu memiliki pekerjaan yang mengesankan sejak bergabung kembali Athletic pada tahun 2013 – ia juga memiliki tugas di raksasa Yunani Olympiakos serta Espanyol, Villarreal dan Valencia – dan terus memperlihatkan kemampuannya sebagai peracik tim utama.

 

Saat Luis Enrique habis kontrak musim ini, Valverde dilaporkan menjadi kandidat pengganti bersama dengan Jorge Sampaoli.

 

Athletic dikalahkan 1-0 oleh Sevilla pekan lalu dan masa depan kedua pelatih tersebut menjadi perbincangan setelah pertandingan. Sampaoli menawarkan komitmen tegas untuk Sevilla dan menyatakan: “Saya terhubung dengan proyek olahraga ini hingga akhir”.

 

Sementara itu  Valverde menawarkan kemampuan serta harapan karena pernah berkarir di Catalan sebelumnya.

 

“Saya tidak ada hubungannya dengan pelatih yang ingin meninggalkan tim atau tidak, yang tak satu pun menjaid perhatian saya,” katanya. “Saya fokus pada tim saya. Saya mengerti semua laporan dari media. Kadang-kadang mereka memberi Anda sebuah tim, kadang-kadang mereka meninggalkan Anda tanpa apapun.

 

“Saya mengerti bahwa ini adalah bagian dari permainan, tapi saya tidak terpengaruh. Saya fokus pada apa yang harus dilakukan. Apa yang saya pertimbangkan sekarang adalah Athletic.”

 

Ditanya bagaimana ia bersikap saat menjadi favorit penggemar Barcelona, Valverde menambahkan: “Cukup bagus, saya sangat santai dan fokus dengan pekerjaan saat ini. Spekulasi seperti ini akan selalu ada dan ini bukan menjadi faktor untuk membuat saya terdesak.

 

“Ini bukan pertama kali terjadi kepada saya ketika saya masih di tim lain. Saya tidak ingin membantah keras, saya hanya berbicara seadanya bahwa segala laporan media tidak benar.”