Spalletti: Inter Tidak Menang Karena Skandal

Luciano Spalletti

BolaSempak Pelatih baru Inter, Luciano Spalletti, menginginkan timnya bisa menjadi salah satu sejarah namun mengakui bahwa ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan di San Siro.

 

Spalletti dipastikan sebagai pelatih Inter pada akhir pekan lalu, menjadi pengganti permanen Stefano Pioli yang membawa Roma ke posisi kedua klasemen Serie A musim lalu.

 

Sebaliknya, Inter mendekam di posisi ketujuh setelah musim pergolakan yang dimulai dengan Roberto Mancini yang pergi sehari jelang awal musim untuk menambahkan masalah dengan periode Frank de Boer yang naas.

 

Klub kota Milan itu tidak akan bermain di level Eropa musim depan, namun mempertahankan ambisi tinggi di bawah kepemilikan Suning Group.

 

Antonio Conte dan Diego Simeone termasuk di antara nama-nama yang terkait dengan jabatan tersebut sebelum Spalletti tampil sebagai kandidat terdepan yang lebih realistis dan pelatih berusia 58 tahun itu sangat menyadari tugas besar yang sedang dihadapi.

 

“Kita perlu membawa Inter kembali ke tempat bersejarah, memberi tahu kepada orang-orang tentang apa yang mampu klub ini lakukan,” katanya dalam sebuah konferensi pers.

 

“Saya meminta para pemain saya untuk percaya kepada saya, saya akan mengembalikan mereka 100% dalam setiap situasi. Kita membutuhkan mereka untuk mengenali jersey yang mereka kenakan, tahu seberapa berat tugas di klub ini dan memberi kesan kuat. Tim harus melakukan banyak hal di lapangan.

 

“Semua akan lebih jelas saat Anda bertemu dengan orang yang bertanya-tanya bagaimana Anda bisa membawa Inter meraih trofi setelah bertahun-tahun, ini seperti sebuah skandal.

 

“Saya ingin menanggapi situasi ini. Saya ingin berpartisipasi dalam masa sulit ini dan kemudian memiliki reaksi yang penting dan benar. Saya tidak lebih pintar dari pelatih lain yang datang sebelum saya, tapi saya berbeda. Saya bekerja dengan cara saya karena saya mempercayainya.”

 

Keyakinan ini meluas terkait formasi yang diinginkannya, dengan Spalletti menegaskan bahwa Inter akan beroperasi dengan sistem 4-2-3-1.

 

Dia berkata: “Saya akan mendapatkan sedikit pengalaman di sini tapi apa yang akan terjadi di lapangan tidak berubah, 4-2-3-1 adalah formasi lengkap untuk membawa kinerja bagus dari tim, yang memungkinkan kualitas menyerang di klub ini. Yang bisa memutuskan hasil lebih positif.”